Bidukku berlayar dan terombang ambing di gelombang jenuh
Sauh yang ku kayuhpun seperti tiada arti
Sebab hujan badai menerpa layarku
Yang membuat kemudi ku patah dua di haluan
Wahai sang pengusa jiwa selamatkan aku dari badai ini
Aku tau ENGKAU yang merencanakan semua
Maka berilah aku mata angin agar bisa ku saungi samudra ini
Dan terlepas dari deru dera cobaan-MU.
#Super_Afreza
Rabu, 17 Juli 2013
Selasa, 16 Juli 2013
Pena
Pena ini terlalu tajam
Tak bisa untuk melukis maupun melantunkan syair
Pena ini terlalu basah
Percikan nodanya telah mengotori mata hatiku
Pena ini terlalu kering
Semua yang kutulis menjadi gersang
Pinjamkan aku sebuah pena
Agar aku bisa melukis dan melantunkan syair yang beriramakan melodi cinta.
#Super_Afreza
Tak bisa untuk melukis maupun melantunkan syair
Pena ini terlalu basah
Percikan nodanya telah mengotori mata hatiku
Pena ini terlalu kering
Semua yang kutulis menjadi gersang
Pinjamkan aku sebuah pena
Agar aku bisa melukis dan melantunkan syair yang beriramakan melodi cinta.
#Super_Afreza
Senin, 15 Juli 2013
Perindu Cahaya
Gelap disini ku merenung
Apakah mungkin aku buta
Tidak, aku tak ingin seperti ini
Seperti disinari kegelapan dari terangnya sinar cahaya
Dimana cahaya itu
Aku meraba, meracau , bahkan menggila
Titisan cahaya itu yang ku rindukan
Terang, damai dan mempesona
Aku ingin selalu di selimuti oleh cahaya-Mu
Penerang di setiap jalanku yang terjal dan bergelombang
Serta memapahku dalam kesengsaraan
Mengobati perih luka ku dengan embun kasturi-Mu
Engkau adalah sesosok penerang dalam kalbu ku
Penerjemah setiap lantunan syair ku
Yang berpendar dari kilaunya cahaya-Mu
Hingga terlukislah semua jalan kehidupan ku
#Super_Afreza
Apakah mungkin aku buta
Tidak, aku tak ingin seperti ini
Seperti disinari kegelapan dari terangnya sinar cahaya
Dimana cahaya itu
Aku meraba, meracau , bahkan menggila
Titisan cahaya itu yang ku rindukan
Terang, damai dan mempesona
Aku ingin selalu di selimuti oleh cahaya-Mu
Penerang di setiap jalanku yang terjal dan bergelombang
Serta memapahku dalam kesengsaraan
Mengobati perih luka ku dengan embun kasturi-Mu
Engkau adalah sesosok penerang dalam kalbu ku
Penerjemah setiap lantunan syair ku
Yang berpendar dari kilaunya cahaya-Mu
Hingga terlukislah semua jalan kehidupan ku
#Super_Afreza
Jumat, 12 Juli 2013
Deburan Cinta Sang Sufi
Gelombang Senja pun berurai
Dari pelabuhan cinta yang kunantikan
Aku melihat ombak menjulur di baris bibir pantai
Bak seorang Sufi yang menanti cinta dari sang Ilahi
Disini kta pernah melukis senja bersama
Di pantai yang kita sebut surga
Deburannya yang pernah menghanyutkan cinta kita
Sayang, karang itu telah memecahkan semuanya
Tapi disini aku tak berkecil hati
Aku percaya Tuhan punya rencana lain untuk ini
Karena Dia selalu memberikan cinta yang terbaik untuk umatnya
Cinta Halal yang selalu kunantikan di setiap penghujung senja
#Super_afreza
Dari pelabuhan cinta yang kunantikan
Aku melihat ombak menjulur di baris bibir pantai
Bak seorang Sufi yang menanti cinta dari sang Ilahi
Disini kta pernah melukis senja bersama
Di pantai yang kita sebut surga
Deburannya yang pernah menghanyutkan cinta kita
Sayang, karang itu telah memecahkan semuanya
Tapi disini aku tak berkecil hati
Aku percaya Tuhan punya rencana lain untuk ini
Karena Dia selalu memberikan cinta yang terbaik untuk umatnya
Cinta Halal yang selalu kunantikan di setiap penghujung senja
#Super_afreza
Selasa, 09 Juli 2013
Senja Abstrak
Kanvas senjaku terlukis oleh rintik gerimis
Lembayungnya abu gelap oleh tinta yang kusebut kelam
Aku terpesona pada surya yang tenggelam
Berjelaga jingga di sudut lukisan
Gerimis di senja ini membangkitkan imajiku
Ku goreskan kuas di bibir senja
Bermain dengan tinta ilusi berbalut kelabu
Hingga tercipta fajar abstrak yang berpendar
Senja, kau begitu mempesona
Sampai aku tak mampu melukis pesona indahmu
Karena rona yang tercipta sudah tersemat di surga
Hanya cinta, syair dan sketsa yang tercipta untukmu.
#Super_Afreza
Lembayungnya abu gelap oleh tinta yang kusebut kelam
Aku terpesona pada surya yang tenggelam
Berjelaga jingga di sudut lukisan
Gerimis di senja ini membangkitkan imajiku
Ku goreskan kuas di bibir senja
Bermain dengan tinta ilusi berbalut kelabu
Hingga tercipta fajar abstrak yang berpendar
Senja, kau begitu mempesona
Sampai aku tak mampu melukis pesona indahmu
Karena rona yang tercipta sudah tersemat di surga
Hanya cinta, syair dan sketsa yang tercipta untukmu.
#Super_Afreza
Jumat, 05 Juli 2013
Kumpulan Syair-Syair Ku
Aku tak ingin tertidur sesampai aku tak ingin terbangun, terbangkanlah aku bersama angan walau nyata memberi luka.
#S_A
Kini telah ku sembunyikan khayalan-khayalanku, agar aku tak lagi hidup bergelut dengan mimpi.
#S_A
Bunga liar itu memang berembun , tapi ia tak pernah berjanji bisa membasahi cakrawala pagimu.
#S_A
Laskar cahaya menggamit berjuta aksara dari setiap kidung doa yang terlantun.
#S_A
Senja ke 12, ia masih tetap kusebut senja dari gemilangnya mentari yang mendamaikan hati.
#S_A
Maafkan aku yang telah melewatkanmu hai senja. Tapi yakinlah bahwa aku tak akan pernah melewatkan cintamu.
#S_A
kulukis langit pagiku dengan kuas asmara, agar hidupku selalu penuh dengan cinta. start with basmalah.
#S_A
Segelas senja ku teguk sebelum tabirnya raup di telan malam.
#S_A
Aku terlalu menggilaimu puan, tergila-gila pada kerudung senja yang kau lingkarkan di wajahmu.
#S_A
Sibisu tak pernah iri pada mereka yang banyak bicara, karena mereka terlalu fanatik terhadap idealisme yang bisa menjerumuskannya pada kesesatan.
#S_A
Kumandikan bejana kerinduan , serta kubasuh ingatan dengan kenangan, dari sebuah kolam yang ku sebut embun purnama.
#S_A
Mimbar subuh melantunkan syair bermega irama dari Al-Quran dan Hadits.
#S_A
Lunturkan imajiku dari sesosok pesona keimananmu.
#S_A
Kita pernah bersama mengitari bima sakti, namun mentari itu terlalu menyilaukanmu hingga aku terlepas dari genggamanmu.
#S_A
Terjebak aku dalam puisiku sendiri, terdiam tanpa makna dalam pengertian.
#S_A
Pujangga embun bertasbih diantara dua waktu mentari.
#S_A
Ada cinta tumbuh tak berbunga, dingin sunyi dan lembab, bagai lumut yang tumbuh di padang pasir.
#S_A
Kubasuh wajahku di telaga embun, agar hilang rasa peluhku terhadap malam yang tak berbintang, di pucuk mentari aku mengitari cahaya sekelak hanya untuk menghangatkan diri.
#S_A
Ada untaian tasbih di balik lentera senja, teruntai bait zikir dibalik hijabmu yang rupawan hai puan.
#S_A
Purnamaku telah tergadai oleh rayuan cintamu.
#S_A
Duhai wanita senja, disini kumenunggu lembayungmu yg jingga. berharap kita bersama merajut cinta di surga.
#S_A
Sang rembulan menanti pinangan sang mentari.
#S_A
Perempuan sepi, jatuh cinta dengan harmonika yang dimainkannya, dari sebuah malam yang merdu,hingga bulanpun, melinangkan airmata.
#S_A
Hujani aku dengan kasih sayang, rangkul aku dengan sebuah kehangatan, deritapun menjelma menjadi kebahagiaan.
#S_A
Kakiku usang terbakar dari perjalanan panjang, tapi ku yakin perih kan terobati dengan sebuah senyuman.
#S_A
Kujadikan puisi ini sebagai bait dzikirku, agar kita bisa bersama menikmati manisnya buah surga dalam sebuah ikatan suci.
#S_A
Maaf kan aku yang tak sempat menitipkan puisi untukmu, tapi aku kan berjanji menitipkan sejuta doa untukmu, agar mendamaikan hati dan jiwamu.
#S_A
Ku berikan seuntai doa padamu, bukan sabait puisi, karna doa kan menjagamu sampai di surga-NYA nanti.
#S_A
Andai jemari kita berpegang erat dalam ikatan suci, hanya pada ilahi kupasrahkan diri,karena ku ingin menikahimu di surga nanti.
#S_A
Tetesan sinar purnama sayup-sayup redup di ujung penantian ini.
#S_A
Aku resah menanti hujan, karena ia hanyalah isyarat, maka biarkanlah ia menguraikan cerita cinta kita.
#S_A
Aku hanyut dalam larutan penyesalan, berandai akan terbaik untuk esok.
#S_A
Ketika pelupuk mata di ujung sayap bidadari, segala nista terhenti akan hadirnya dirimu di hatiku.
#S_A
Selaksana hati berenggut jiwa, terbuai dalam kata-kata, terbitnya cinta bukan karna disanjung melainkan dipuja.
#S_A
Laraku telah kutulis dalam kanvas hati, awalnya cinta ku jadikan sebagai tinta, namun warna merah karna luka yg tertuang.
#S_A
Takdir yang bagitu kejam, sudah seperti sahabat sejati bagiku, karena ia selalu setia menemani kisah hidupku.
#S_A
Kepada nabi Adam aku ingin bertanya, bagaimana rasanya air mata yang pertama ia teteskan di saat ia terpisah lama dengan hawa.
#S_A
Aku mungkin seorang pengecut dalam mengungkapkan perasaanku kepada wanita, tetapi aku bukanlah seorang pecundang yang merebut hati dan perasaan wanita dari pria lain.
#S_A
Hidup jadi buram tanpa cinta,cinta buram tanpa kasih sayang.
#S_A
#S_A
Kini telah ku sembunyikan khayalan-khayalanku, agar aku tak lagi hidup bergelut dengan mimpi.
#S_A
Bunga liar itu memang berembun , tapi ia tak pernah berjanji bisa membasahi cakrawala pagimu.
#S_A
Laskar cahaya menggamit berjuta aksara dari setiap kidung doa yang terlantun.
#S_A
Senja ke 12, ia masih tetap kusebut senja dari gemilangnya mentari yang mendamaikan hati.
#S_A
Maafkan aku yang telah melewatkanmu hai senja. Tapi yakinlah bahwa aku tak akan pernah melewatkan cintamu.
#S_A
kulukis langit pagiku dengan kuas asmara, agar hidupku selalu penuh dengan cinta. start with basmalah.
#S_A
Segelas senja ku teguk sebelum tabirnya raup di telan malam.
#S_A
Aku terlalu menggilaimu puan, tergila-gila pada kerudung senja yang kau lingkarkan di wajahmu.
#S_A
Sibisu tak pernah iri pada mereka yang banyak bicara, karena mereka terlalu fanatik terhadap idealisme yang bisa menjerumuskannya pada kesesatan.
#S_A
Kumandikan bejana kerinduan , serta kubasuh ingatan dengan kenangan, dari sebuah kolam yang ku sebut embun purnama.
#S_A
Mimbar subuh melantunkan syair bermega irama dari Al-Quran dan Hadits.
#S_A
Lunturkan imajiku dari sesosok pesona keimananmu.
#S_A
Kita pernah bersama mengitari bima sakti, namun mentari itu terlalu menyilaukanmu hingga aku terlepas dari genggamanmu.
#S_A
Terjebak aku dalam puisiku sendiri, terdiam tanpa makna dalam pengertian.
#S_A
Pujangga embun bertasbih diantara dua waktu mentari.
#S_A
Ada cinta tumbuh tak berbunga, dingin sunyi dan lembab, bagai lumut yang tumbuh di padang pasir.
#S_A
Kubasuh wajahku di telaga embun, agar hilang rasa peluhku terhadap malam yang tak berbintang, di pucuk mentari aku mengitari cahaya sekelak hanya untuk menghangatkan diri.
#S_A
Ada untaian tasbih di balik lentera senja, teruntai bait zikir dibalik hijabmu yang rupawan hai puan.
#S_A
Purnamaku telah tergadai oleh rayuan cintamu.
#S_A
Duhai wanita senja, disini kumenunggu lembayungmu yg jingga. berharap kita bersama merajut cinta di surga.
#S_A
Sang rembulan menanti pinangan sang mentari.
#S_A
Perempuan sepi, jatuh cinta dengan harmonika yang dimainkannya, dari sebuah malam yang merdu,hingga bulanpun, melinangkan airmata.
#S_A
Hujani aku dengan kasih sayang, rangkul aku dengan sebuah kehangatan, deritapun menjelma menjadi kebahagiaan.
#S_A
Kakiku usang terbakar dari perjalanan panjang, tapi ku yakin perih kan terobati dengan sebuah senyuman.
#S_A
Kujadikan puisi ini sebagai bait dzikirku, agar kita bisa bersama menikmati manisnya buah surga dalam sebuah ikatan suci.
#S_A
Maaf kan aku yang tak sempat menitipkan puisi untukmu, tapi aku kan berjanji menitipkan sejuta doa untukmu, agar mendamaikan hati dan jiwamu.
#S_A
Ku berikan seuntai doa padamu, bukan sabait puisi, karna doa kan menjagamu sampai di surga-NYA nanti.
#S_A
Andai jemari kita berpegang erat dalam ikatan suci, hanya pada ilahi kupasrahkan diri,karena ku ingin menikahimu di surga nanti.
#S_A
Tetesan sinar purnama sayup-sayup redup di ujung penantian ini.
#S_A
Aku resah menanti hujan, karena ia hanyalah isyarat, maka biarkanlah ia menguraikan cerita cinta kita.
#S_A
Aku hanyut dalam larutan penyesalan, berandai akan terbaik untuk esok.
#S_A
Ketika pelupuk mata di ujung sayap bidadari, segala nista terhenti akan hadirnya dirimu di hatiku.
#S_A
Selaksana hati berenggut jiwa, terbuai dalam kata-kata, terbitnya cinta bukan karna disanjung melainkan dipuja.
#S_A
Laraku telah kutulis dalam kanvas hati, awalnya cinta ku jadikan sebagai tinta, namun warna merah karna luka yg tertuang.
#S_A
Takdir yang bagitu kejam, sudah seperti sahabat sejati bagiku, karena ia selalu setia menemani kisah hidupku.
#S_A
Kepada nabi Adam aku ingin bertanya, bagaimana rasanya air mata yang pertama ia teteskan di saat ia terpisah lama dengan hawa.
#S_A
Aku mungkin seorang pengecut dalam mengungkapkan perasaanku kepada wanita, tetapi aku bukanlah seorang pecundang yang merebut hati dan perasaan wanita dari pria lain.
#S_A
Hidup jadi buram tanpa cinta,cinta buram tanpa kasih sayang.
#S_A
Kuntum Mawar Illahi
Buatlah bunga lain iri pada mu hai mawarku
Kuntummu terlalu rapuh dari deru zaman yang semakin gila
Sebab mekarmu hanya sekali
Dari pesonamu yang selalu kunanti
Jagalah selalu kuntummu dari kumbang jalang
madu suci itu untuk bekalmu di akhirat nanti
Mekarmu memang indah mawarku
Tapi kau sangat rapuh untukku genggam
Senjapun menggelapkan pesonamu
Hingga pagi membuatmu indah kembali
Setetes embun pun membasuhmu
Agar kau kembali suci dari kegelapan malam
Akan tiba masa layumu mawarku
Wangimu pun memudar, Kumbang pun enggan mendekatimu
Karena layumu sebelum berkembang
Maka jagalah selalu kuntummu itu untuk Illlahi
Akan kupetik engkau hingga pencapainmu
Dari kuntum yang selalu kau jaga
Hingga kau mekar mewangi sampai berjuta hasta
Karena kuntummu akan kupersembah kan pada Illahi
#Super_Afreza
Kuntummu terlalu rapuh dari deru zaman yang semakin gila
Sebab mekarmu hanya sekali
Dari pesonamu yang selalu kunanti
Jagalah selalu kuntummu dari kumbang jalang
madu suci itu untuk bekalmu di akhirat nanti
Mekarmu memang indah mawarku
Tapi kau sangat rapuh untukku genggam
Senjapun menggelapkan pesonamu
Hingga pagi membuatmu indah kembali
Setetes embun pun membasuhmu
Agar kau kembali suci dari kegelapan malam
Akan tiba masa layumu mawarku
Wangimu pun memudar, Kumbang pun enggan mendekatimu
Karena layumu sebelum berkembang
Maka jagalah selalu kuntummu itu untuk Illlahi
Akan kupetik engkau hingga pencapainmu
Dari kuntum yang selalu kau jaga
Hingga kau mekar mewangi sampai berjuta hasta
Karena kuntummu akan kupersembah kan pada Illahi
#Super_Afreza
Langganan:
Postingan (Atom)